Jumat, 13 Februari 2026
E-MAGAZINE
Business Asia
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Ekonomi
    • Tourism
    • Internasional
  • Business
  • Figure
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Indeks
  • Home
  • Berita
    • Ekonomi
    • Tourism
    • Internasional
  • Business
  • Figure
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Indeks
No Result
View All Result
Business Asia
No Result
View All Result
Home Business

AFTECH dan Mandala Consulting Luncurkan White Paper, Soroti Potensi Perluasan Akses Kredit via Kolaborasi Bank dan Pindar

12 Februari 2026
in Business
AFTECH dan Mandala Consulting Luncurkan White Paper, Soroti Potensi Perluasan Akses Kredit via Kolaborasi Bank dan Pindar
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

Jakarta, Business Asia – Di tengah upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperluas inklusi keuangan nasional, akses terhadap pembiayaan formal masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting secara resmi meluncurkan White Paper berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”, yang mengeksplorasi kesenjangan akses kredit formal di Indonesia sekaligus potensi kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending.

White Paper ini disusun setelah melalui forum presentasi temuan studi dan diskusi panel yang melibatkan regulator, institusi perbankan, asosiasi industri, ekonom, sektor asuransi, serta ekosistem Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA).

Kegiatan peluncuran white paper  ini menjadi ruang dialog lintas pemangku kepentingan guna membahas implikasi kolaborasi bank dan pindar terhadap inklusi keuangan, pembiayaan produktif Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto mengatakan, stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang terjadi saat ini mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama segmen underbanked. Pendekatan kolaboratif antara perbankan dan pindar saat ini menjadi semakin penting dalam rangka memperluas akses pembiayaan guna mendukung tercapainya target pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan dan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” kata Firlie dalam peluncuran White Paper di Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Penyusunan white paper ini juga dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar terus meningkat secara signifikan, dari hanya Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.

“Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang,” tambah Firlie.

Direktur Ekonomi Syariah dan Badan Usaha Milik Negara Kementerian PPN/Bappenas, Rosy Wediawaty turut menyampaikan bahwa perluasan akses pembiayaan memiliki peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk melalui kolaborasi antara lembaga keuangan konvensional dan inovatif, dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata, khususnya bagi sektor produktif dan pelaku usaha yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kredit formal.

Temuan Studi White Paper

Senada, CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.

Namun, tidak dipungkiri tantangan akses kredit di Indonesia belum bisa dilepaskan dari besarnya populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal. Data World Bank menunjukkan sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sementara data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70% pada 2025. Artinya, masih ada sekitar 30% orang dewasa di Indonesia masih financially excluded.

Data dari Bank Dunia (World Bank) juga menunjukkan rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih relatif rendah dan cenderung stagnan di kisaran 36,4% pada periode 2024–2025. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas di kawasan yang mencapai 74,46%, maupun negara berpendapatan menengah bawah di 62,72%.

Menurut Manggala, kesenjangan ini antara lain dipengaruhi oleh ketatnya persyaratan kredit formal, serta masih luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional.

Sejalan dengan hasil temuan terkait keterbatasan akses masyarakat terhadap produk keuangan formal di tengah penetrasi internet Indonesia yang telah mencapai 75%, hasil studi White Paper mengungkap mulai adanya pergeseran pertumbuhan kanal pembiayaan.

Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit utama dengan nilai pinjaman yang besar, namun pindar menjadi kanal yang tumbuh paling cepat, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 34% pada periode 2019-2024.

Hal ini lantaran pindar menawarkan dua nilai tambah utama, yaitu membuka akses ke segmen yang selama ini belum tergarap optimal dan mendorong inovasi melalui underwriting digital, pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring, serta proses yang lebih agile.

“Jadi ini bukan semata persoalan kemampuan ekonomi, melainkan keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional yang belum sepenuhnya dirancang untuk membaca profil mereka. Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, namun belum sepenuhnya tergarap. Pipanya sudah terpasang dan konektivitas sudah tersedia, namun pembiayaan formal belum sepenuhnya mengalir. Dengan demikian tantangan utamanya terletak pada aspek kepercayaan, data, dan dokumentasi. Di sinilah pindar memiliki fleksibilitas operasional dan kecepatan untuk merangkul mereka,” ungkap Manggala.

Dengan terus meningkatnya penggunaan layanan pindar, disertai penguatan ekosistem industri fintech, tata kelola, model bisnis, serta kapabilitas teknologi yang dimiliki, tingkat kepercayaan institusi keuangan terhadap kanal pembiayaan ini turut mengalami peningkatan.

Studi pun menemukan, bank secara bertahap telah berkembang menjadi penyedia likuiditas utama bagi industri pindar, di mana porsi pendanaan dari perbankan meningkat signifikan, dari hanya 15% atau sekitar Rp1,5 triliun pada Januari 2021, menjadi 71% atau Rp46,6 triliun pada Januari 2025.

Lebih lanjut, Studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) menunjukkan bahwa lebih dari 50% peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35% mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan pinjaman dari platform pindar.

Pola serupa juga terlihat pada survei Mandala, dimana hampir 50% responden mengajukan pinjaman bank setelah melunasi kewajiban pinjaman dari pindar. Sejumlah bank digital kemudian memanfaatkan momentum ini dengan melakukan cross-selling kartu kredit dan produk pinjaman kepada peminjam platform pindar yang telah memiliki rekam jejak pembayaran.

Faktor Keberhasilan Kolaborasi Perbankan & P2P Lending

Dari sisi industri, Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo mengatakan, percepatan peran pindar dalam ekosistem pembiayaan perlu diimbangi dengan kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang sejalan dengan standar perbankan.

Dalam konteks ini, kesiapan platform pindar untuk beradaptasi dengan standar tersebut menjadi faktor utama agar kolaborasi bank–pindar berhasil dan dapat berkontribusi positif terhadap perluasan akses pendanaan yang berkelanjutan.

“Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Sebenarnya saat ini sudah banyak contoh platform pindar dengan tata kelola yang baik dan dapat menjadi acuan bagi industri. Temuan riset AFTECH bersama Mandala Consulting juga menunjukkan bahwa beberapa bank internasional di Indonesia aktif bekerja sama dengan pindar. Artinya, pindar di Indonesia sudah memiliki tata kelola dan kapabilitas yang dipercaya oleh perbankan, bahkan di level internasional,” ujar Nucky.

Pihaknya meyakini, nilai dari kemitraan bank dan pindar sangat besar, dan dampaknya secara signifikan positif bagi masyarakat, terutama karena model ini berpotensi menutup kesenjangan akses kredit yang dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

Sebagai contoh dampak positif dari penyaluran kredit yang lebih luas berdasarkan riset IMF, adalah penyaluran kredit baik multiguna maupun produktif dapat mendorong produktivitas, memperkuat konsumsi, dan memberi dorongan nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

“Tentunya, kolaborasi bank dan pindar tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kredit. Namun, hal ini membuka ruang pembiayaan baru yang selama ini belum tergarap. Pindar dapat berperan sebagai sandbox bagi peminjam yang baik, dan menjadi ruang awal membangun rekam jejak kredit sebelum masuk ke sistem perbankan. Jika tata kelolanya terus diperkuat, sinergi ini dapat menjadi salah satu batu loncatan penting menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh,” tutup Nucky.

 

Tags: AFTECH
Previous Post

Living Lab Ventures (LLV) Tarik Investor Global ke Indonesia via Investasi Strategis dan Ekosistem Terintegrasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BISNIS TERKINI

AFTECH dan Mandala Consulting Luncurkan White Paper, Soroti Potensi Perluasan Akses Kredit via Kolaborasi Bank dan Pindar

AFTECH dan Mandala Consulting Luncurkan White Paper, Soroti Potensi Perluasan Akses Kredit via Kolaborasi Bank dan Pindar

12 Februari 2026

Living Lab Ventures (LLV) Tarik Investor Global ke Indonesia via Investasi Strategis dan Ekosistem Terintegrasi

Living Lab Ventures (LLV) Tarik Investor Global ke Indonesia via Investasi Strategis dan Ekosistem Terintegrasi

12 Februari 2026

Permata Bank Bukukan Pencapaian Positif Hingga Akhir Tahun 2025

Permata Bank Bukukan Pencapaian Positif Hingga Akhir Tahun 2025

12 Februari 2026

Avrist Group Perkuat Kolaborasi Lintas Bisnis via Avrist Group Financial Forum 2026

Avrist Group Perkuat Kolaborasi Lintas Bisnis via Avrist Group Financial Forum 2026

12 Februari 2026

IIMS 2026 Perkuat Industri Otomotif Nasional via Edukasi, CSR, dan Kolaborasi Industri

IIMS 2026 Perkuat Industri Otomotif Nasional via Edukasi, CSR, dan Kolaborasi Industri

12 Februari 2026

PT. Media Maju Global

Plaza Simatupang Lt. 6 Unit 3. Jl. TB. Simatupang Kav. IS No. 01, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Telp: 021-22702245
E-mail: redaksi@businessasia.co.id

Kategori

  • Berita
  • Business
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Figure
  • Indeks
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Property
  • Teknologi
  • Tourism

.

  • About
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Privacy Policy
  • Cyber Guidelines
  • Pedoman Media Siber

About

Kehadiran Majalah BusinessAsia Indonesia yang memiliki Tagline Towards a New Change in Asia atau “Menuju Perubahan Baru di Asia” khususnya Indonesia  bertujuan untuk memastikan langkah mereka kokoh menapaki dinamika ekonomi bisnis dan investasi yang kian berkembang. Baca selengkapnya.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Business
  • Figure
  • Teknologi
  • Lifestyle
  • Internasional
  • Indeks
  • e-Magazine

Majalah terbatas

1. DPMPTSP Kota Tangsel Raih Penghargaan
Pelayanan Prima dari Kemenpan RB.

2. Jebakan Crazy
Rich Pikat Pelanggan Ikut Trading Binary
Option.

3. Eksportir Indonesia
Perluas Jejaring
dengan Buyers di AS

shop new Emagazine