Jakarta, Business Asia — PT Rintis Sejahtera, lembaga switching Indonesia sekaligus pengelola Jaringan PRIMA, berkomitmen dalam mendukung keamanan transaksi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Transformasi digital yang membawa kemudahan dalam bertransaksi juga memunculkan risiko kejahatan siber, mulai dari pencurian data pribadi hingga penipuan yang dapat mengancam aset perbankan masyarakat.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Jaringan PRIMA berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang konsisten mengedukasi publik agar waspada terhadap berbagai modus penipuan digital. Jaringan PRIMA dan BCA menggelar talkshow bertema “Bangun Ketahanan Siber, Jaga Data Pribadi di Era Digital” pada acara Media Gathering PRIMA Talkshow, 27 Agustus 2025 di Greyhound Café Menteng, Jakarta Pusat.
Pada acara tersebut menghadirkan pembicara Sugianto Wono, Vice President BCA, dengan moderator Jeffrey Sukardi, SEVP Information Systems Security PT Rintis Sejahtera.
Dalam diskusi ini, para narasumber membahas bahwa pencurian data pribadi merupakan risiko siber yang rawan dan sulit sepenuhnya dikendalikan, karena dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mengakses sistem secara ilegal.
Sugianto Wono menjelaskan bahwa BCA menerapkan aspek yang harus dijaga dalam cyber security people, process, dan technology dalam melindungi data pribadi nasabah. Menurutnya, tantangan terbesar terdapat pada aspek people, khususnya pada kelalaian individu yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melakukan aksi mereka.
Sebagaimana dipaparkan dalam 2023 Cost of Insider Risk Global Report oleh Ponemon Institute dan Forbes 2024, insiden kejahatan siber yang paling sering terjadi meliputi penipuan individu melalui social engineering dan phishing, serta ancaman yang berasal dari orang dalam organisasi.
Kasus kejahatan siber yang juga tengah marak saat ini antara lain Fake Base Transceiver Station (Fake BTS) yang menyamar sebagai menara seluler resmi untuk mengirim SMS palsu seolah-olah berasal dari bank atau operator, dengan tujuan menipu korban agar mengklik tautan phishing dan menyerahkan informasi pribadi. Selain itu, pelaku juga memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk membuat rekaman video, foto, atau audio (deepfake) yang tampak asli guna menyamar sebagai korban demi memperoleh data pribadi maupun mengakses serta mengaktifkan akun keuangan.
“Tantangan keamanan siber saat ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kesadaran. Di BCA, kami percaya bahwa perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama, antara institusi dan masyarakat. Karena itu, kami terus memperkuat sistem keamanan internal sekaligus mengedukasi nasabah agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital,” ujar Sugianto Wono Vice President PT Bank Central Asia Tbk.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem keamanan, BCA secara proaktif mendorong pemanfaatan teknologi AI yang sejalan dengan prinsip etika dan kepatuhan. Perseroan mengembangkan teknologi deteksi dini berbasis AI melalui sistem fraud detection dan machine learning untuk mengidentifikasi potensi ancaman siber secara real-time. BCA juga menerapkan prinsip zero trust, multi-layered authentication, serta melakukan audit keamanan secara berkala untuk memastikan sistem tetap tangguh terhadap berbagai bentuk serangan.
Namun, teknologi saja tidak cukup. BCA menyadari bahwa aspek people adalah titik rawan yang paling sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Untuk itu, BCA aktif mengedukasi publik melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk kampanye nasional bertajuk “Don’t Know? Kasih No!”, sebuah gerakan literasi digital yang mengajak masyarakat untuk berpikir kritis dan tidak asal klik terhadap informasi yang tidak jelas sumber atau kredibilitasnya.
Untuk memperkuat sistem keamanan dalam ekosistem pembayaran, Jaringan PRIMA terus memperkuat kolaborasi dengan para mitra dan proaktif memantau serta mendeteksi anomali transaksi untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan siber.
“Kami bekerja sama dan mendukung mitra kami untuk memantau serta mendeteksi anomali transaksi pada Fraud Detection System kami. Upaya ini penting agar mitra kami dapat segera menanggulangi jika terjadi penipuan dan memastikan nasabah tetap aman dalam bertransaksi,” tutup Jeffrey.