Businessasia.co.id – Dinas Pariwisata NTB produksi film pendek bertajuk “Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani”. Film ini mengangkat legenda Putri Mandalika sebagai strategi promosi pariwisata berbasis kebudayaan.
“Tujuan utama fim ini adalah untuk promosi kebudayaan Sasak yang ritualnya dilaksanakan satu tahun sekali dalam gelaran event Bau Nyale. Akan sayang sekali ketika kita punya budaya yang baik, dan tidak bisa kita manfaatkan untuk jangkauan yang lebih luas,” ujar Ahmad Nur Aulia, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB (4/2/2026)
Film pendek ini kemudian akan diputar pada acara Culture Night Of Mandalika “Bau Nyale Short Movie Screening”, yang menjadi salah satu rangkaian acara dalam festival tahunan Bau Nyale. Event ini diselenggarakan secara gratis dan siapapun diperkenankan ikut hadir.
“Bau Nyale jadi salah satu aset kekayaan budaya yang dimiliki NTB yang menarik untuk disajikan ke wisatawan domestik maupun mancanegara. Oleh karenanya film ini akan dilayarkan pada Jumat (6/2/2026), satu hari sebelum ritual Bau Nyale dilaksanakan di malam puncak festival Bau Nyale.,” tambah Ahmad Nur Aulia, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB tersebut.
Bau Nyale merupakan tradisi masyarakat pesisir Selatan Lombok. “Bau” dalam bahasa Sasak artinya “menangkap”, sementara “Nyale” adalah nama cacing warna warni yang keluar secara musiman di pesisir pantai Lombok. Masyarakat mempercayai bahwa Nyale merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang melarungkan dirinya ke laut.
“Nyale sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala, kemudian Putri Mandalika memberikan petunjuk kepada pangeran-pangeran yang ingin menikahinya, bahwa ada berkah yang lebih besar daripada memperebutkan dirinya. Akhirnya dia meminta pangeran-pangeran itu untuk datang ke Pantai Seger pada tanggal 20 bulan 10 di penanggalan Sasak dan dia pergi menghilang. Itulah khazanah ilmu pengetahuan yang ditinggalkan Mandalika,” ujar Lalu Agus Fathurrahman, Budayawan Sasak (4/2/2026).












