Businessasia.co.id – Sebanyak 19 perusahaan dari berbagai sektor industri menerima penghargaan bergengsi Indonesia QHSE For Business Sustainability Awards 2025 (IQSA Awards 2025). Malam Penganugerahan IQSA Awards 2025 berlangsung meriah di Hotel Sultan, Jakarta, pada Kamis, 27 November 2025.
Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan (Binwasker) dan K3, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Ismail Pakaya dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan IQSA Awards yang kini memasuki tahun kedua diharapkan terus berlanjut sebagai ruang apresiasi bagi perusahaan yang konsisten menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
“Penghargaan yang akan diserahkan ini bukan hanya sekedar ada angka-angka dan lain-lain, tetapi kami harapkan K3 benar-benar diaplikasikan di tempat kerja,” pesan Ismail.
Ia menyampaikan, Kemnaker khususnya Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan sosialisasi K3 kepada serikat buruh dan manajemen perusahaan untuk menekan angka kecelakaan kerja. “Selama ini kami tahu banyak yang sudah mendapatkan sosialisasi tentang keselamatan dan kesehatan kerja, tetapi masih banyak timbulnya kecelakaan kerja di tempat kerja,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Ismail menyampaikan beberapa catatan dari Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli. Ia berharap acara penghargaan ini dimaknai sebagai satu momentum bagi kita semua untuk menegaskan komitmen bersama dalam membangun praktik QHSE yang unggul dan berkelanjutan. “Jadi tidak hanya sekadar hari ini ikut, kemudian karena tahun depan tidak mendaftar, pelaksanaan K3-nya juga menurun. Kita menerapkan norma-norma itu tidak karena berharap ada penghargaan,” pesannya.
Kemnaker mendorong seluruh perusahaan di Indonesia baik BUMN maupun swasta untuk terus meningkatkan budaya K3-nya sehingga bisa naik kelas melalui penerapan standar-standar K3 yang semakin baik ke depan. Ia berharap seluruh perusahaan yang mendaftar maupun yang mendapatkan penghargaan IQSA Awards untuk terus menjaga kualitas sebagai nilai yang menentukan daya saing industri kita ke depan.
Tak berhenti pada sosialisasi, Kemnaker saat ini sedang melakukan transformasi beberapa regulasi terkait dengan K3 termasuk Sistem Manajemen K3 (SMK3).
Ismail juga menyoroti persoalan meningkatnya jumlah Ahli K3, namun angka kecelakaan kerja juga ikut naik. Hal ini mendorong Kemnaker melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pelatihan hingga penetapan Ahli K3.
Ia menilai perlu adanya jenjang yang lebih jelas sebelum seseorang ditetapkan sebagai Ahli K3. Model pelatihan yang hanya beberapa minggu dan langsung menghasilkan “calon Ahli K3” dianggap perlu ditinjau kembali. “Setiap turun ke daerah, saya mengunjungi PJK3 yang sedang melakukan pembinaan, termasuk meninjau tempat praktik dari PJK3 tersebut. Kita sangat berharap keluaran-keluaran dari pembinaan-pembinaan yang dilakukan ini menghasilkan SDM K3 yang kualitasnya terjaga dengan baik,” ujarnya.
Salah satu langkah strategis yang segera diterapkan adalah digitalisasi sertifikat K3, termasuk Surat Keputusan Penunjukan (SKP) Ahli K3. Selama ini, proses cetak dan tanda tangan manual membuat sertifikat menumpuk dan waktu tunggu menjadi panjang. “Ke depan, sertifikat tidak lagi menunggu tanda tangan manual Dirjen. Semua akan digital,” tegasnya.
Ismail juga menyoroti terbatasnya sumber daya manusia (SDM) K3 di daerah. Ia mencontohkan, di Jawa Barat hanya ada satu spesialis K3 kebakaran untuk melayani puluhan kabupaten/kota. Situasi ini membuat proses pengurusan surat keterangan K3 seringkali memakan waktu lama.
Kemnaker kini menyiapkan langkah untuk menambah jumlah SDM K3 sekaligus meningkatkan kualitasnya, agar pelayanan K3 dapat lebih cepat dan merata.
Menutup sambutan, Ismail menyampaikan apresiasi kepada Majalah Business Asia selaku penyelenggara IQSA Awards 2025, serta seluruh tim juri dan peserta. “Semoga ikhtiar kita untuk menjadi yang terbaik Ini memberi semangat bagi kita semua untuk selalu memperbaiki dunia kerja di Indonesia,” pungkasnya.










