Jakarta, Business Asia – Perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Indonesia bukanlah sebuah garis lurus yang sunyi dari gelombang. Jejak perjalanannya ditempa oleh waktu, keberanian, dan ketahanan batin yang lahir dari berbagai perjuangan.
Sejak awal kedatangannya, orang-orang Tionghoa mengarungi lautan menuju Nusantara dengan impian dan harapan yang sederhana: membangun kehidupan yang lebih baik. Di tanah yang baru ini, mereka menanamkan akar kehidupan, serta merawat tradisi turun-temurun, dari adat istiadat, pola pemukiman, sastra, bahasa, kepercayaan, hingga kuliner dan kesenian.
Kehadiran komunitas ini juga menambah warna khas dalam mozaik keberagaman Nusantara. Mereka tidak sekadar menetap, tetapi membawa tradisi yang seiring waktu, bertemu dengan budaya lokal. Pertemuan ini melahirkan bentuk baru dalam kuliner, seni, bahasa, dan cara hidup, memperkaya lanskap budaya Indonesia serta meninggalkan jejak yang masih terasa hingga kini.
Sejarah yang tercatat juga menyimpan kisah-kisah yang tidak selalu mudah. Komunitas Tionghoa di Indonesia sering dihadapkan pada berbagai keterbatasan, di mana identitas dipertanyakan, bahasa dan budaya dibatasi, dan hidup dijalani dengan penuh kehati-hatian demi tetap aman dan diterima. Meski begitu, komunitas ini terus bertumbuh dan berdaya, memberikan kontribusi nyata lewat deretan tokoh ahli dari berbagai lintas bidang.
Hingga kini, perjalanan tersebut masih terus diperjuangkan. Pengalaman yang dilalui mengajarkan bagaimana berdamai dengan masa lalu, merayakan identitas tanpa rasa takut, serta menempatkan sejarah sebagai ruang refleksi bersama. Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang komunitas Tionghoa itu sendiri, melainkan tentang Indonesia. Tentang bagaimana sebuah bangsa terus belajar menerima, mengakui, dan tumbuh bersama dalam keberagaman yang selaras dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika.
Berangkat dari kisah perjalanan ini, lahirlah Galeri Budaya Tionghoa Indonesia di Pantjoran PIK. Galeri ini merayakan kisah komunitas Tionghoa di Nusantara dan menjadi ruang budaya yang menampilkan memori kolektif serta warisan yang tetap hidup dan terjaga.
Natalia Kusumo selaku CEO Agung Sedayu Group mengatakan: “Galeri Budaya Tionghoa Indonesia adalah ruang hidup yang mengajak pengunjung untuk merasakan sejarah, memahami tradisi, dan melihat bagaimana akulturasi budaya membentuk identitas bangsa kita. Galeri ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi, ruang komunitas bertumbuh, dan inspirasi kreatif bagi semua pengunjung.”
Dengan pendekatan kuratorial yang kontekstual, galeri budaya ini mengajak pengunjung memahami budaya sebagai pengalaman hidup, terbentuk melalui interaksi lintas generasi dan komunitas. Galeri ini juga berfungsi sebagai ruang komunitas yang membuka dialog tentang identitas dan keberagaman, sekaligus menjadi wadah edukasi dan kreatif melalui berbagai program, lokakarya, dan kegiatan interaktif bagi pengunjung dari berbagai usia.
Disini pengunjung dapat menelusuri tiga zona utama: Ruang Kedatangan, Ruang Kesaksian, dan Ruang Keakraban. Masing-masing menawarkan perspektif berbeda tentang perjalanan identitas, komunitas, dan rasa kebersamaan. Narasi yang ditampilkan merangkai kisah sehari-hari dari pedagang, perajin, ibu rumah tangga, wirausahawan, hingga tokoh publik, menunjukkan bagaimana kontribusi mereka turut membentuk masyarakat Indonesia yang majemuk.
Setelah melewati ketiga zona utama, pengunjung akan tiba di Temporary Exhibiton Area. Ruangan ini menghadirkan pameran bergilir setiap 6 bulan yang mengangkat topik lebih mendalam dengan pendekatan kolaboratif dan perspektif kontemporer. Setiap pameran yang dihadirkan akan melibatkan kolaborasi antar komunitas, kolaborator, dan individu kreatif.
Pameran perdana hadir dengan tajuk “≠ / Tidak Sama Dengan”, yang dimana konsepnya berangkat dari keberagaman identitas yang selalu terbuka akan hal baru. Dalam pameran ini, terdapat karya-karya seniman ternama serta kontemporer seperti Edita Atmaja, FX. Harsono, Meliantha Muliawan, dan Yaya Sung.
Melalui pameran, pertunjukan, dan diskusi publik, pengunjung diajak untuk memahami sejarah dengan cara yang menarik dan interaktif, menjelajahi kisah-kisah komunitas Tionghoa di Nusantara, dan merasakan langsung bagaimana tradisi, budaya, dan kehidupan sehari-hari komunitas Tionghoa membentuk warna keberagaman Indonesia.
Kehadiran galeri budaya di Pantjoran PIK selaras dengan kampanye PIK Berbudaya yang telah dicanangkan sejak 2025. PIK Berbudaya merupakan inisiatif untuk memperkenalkan kembali keberagaman Nusantara melalui perpaduan sejarah, seni pertunjukan, kuliner, serta kreativitas kontemporer dalam satu rangkaian pengalaman di berbagai destinasi Pantai Indah Kapuk, termasuk Pantjoran PIK.
Oleh karena itu, Galeri Budaya Tionghoa Indonesia diharapkan dapat semakin melengkapi pengalaman pengunjung, menjadikan Pantjoran PIK tidak hanya sebagai destinasi kuliner, namun juga destinasi edukasi, tempat pengunjung dapat menyelami perjalanan, nilai, dan warisan budaya Tionghoa di Indonesia dalam ruang yang imersif, relevan, dan hidup.












