Business Asia – Dalam satu dekade terakhir, industri mode global menyaksikan pergeseran yang signifikan: bangkitnya modest fashion. Dulu kerap dianggap membatasi, kini busana modest justru menjelma menjadi pernyataan gaya di panggung dunia — berkat gelombang baru desainer asal Saudi.
Dengan memadukan tradisi dan modernitas, mereka menulis ulang aturan berbusana sekaligus menciptakan tren yang melampaui Timur Tengah. Hari ini, kreativitas para desainer Saudi generasi baru tak hanya mengubah lanskap mode regional, tetapi juga mewarnai kanvas fesyen global dengan perspektif segar.
Langkah mereka melaju percaya diri di runway internasional, menginspirasi perempuan dari Paris hingga Jakarta.
Tradisi dalam Balutan Modernitas: Sebuah Identitas Mode Baru
Abaya dan hijab, yang selama ini identik dengan simbol kesederhanaan dan nilai keimanan, kini terlahir kembali sebagai pernyataan mode yang berani. Tak lagi terbatas pada hitam polos, abaya tampil dalam palet warna chic, material yang mengalir lembut, serta potongan modern yang memberi karakter baru.
Hijab pun berevolusi menjadi simbol kepercayaan diri dan individualitas — dirancang dari sutra, chiffon, hingga katun, dengan permainan motif dinamis dan nuansa warna yang elegan.
Sinergi antara akar budaya dan identitas individual itulah yang mengangkat fashion Saudi ke panggung global.
Desainer dan Jenama Saudi Melenggang di Pentas Global
Modest fashion kini tak lagi terbatas pada komunitas Muslim. Gaya berbusana perempuan Barat semakin tertarik pada gaun panjang, teknik layering, dan gaya minimalis yang rapi — membuat konsep modest fashion mendapat perhatian di panggung internasional. Ini bukan lagi soal menutup tubuh, melainkan tentang bagaimana gaya, kenyamanan, dan identitas bisa berjalan beriringan.
Di tengah perubahan ini, dua desainer Saudi menonjol sebagai penggeraknya: Razan Alazzouni dan HINDAMME. Razan Alazzouni menampilkan koleksi “Monotone” di Riyadh Fashion Week 2025, yang memadukan budaya Saudi dengan desain modern. Sementara itu, HINDAMME menghadirkan “Hejaz”, koleksi yang mengangkat warisan Saudi bagian barat dalam sentuhan kontemporer. Keduanya telah membawa karya mereka ke panggung internasional, termasuk London, Paris, dan New York Fashion Week.
Bagi perempuan Indonesia, pengaruhnya terasa dekat. Hijab dan modest wear sudah lama menjadi bagian dari budaya, namun tren dari Saudi memberi napas baru pada cara generasi muda berpakaian. Dari kampus hingga kantor, kenyamanan dan gaya kini menyatu, membentuk gerakan fesyen yang lebih segar dan percaya diri.
Dari Riyadh ke Jeddah: Street Style sebagai Bahasa Perubahan
Menyusuri jalanan Riyadh atau Jeddah, kita bisa melihat bahasa budaya baru yang sedang tumbuh. Anak muda memadukan jeans dengan tunik panjang, menafsirkan ulang keffiyeh tradisional, serta memasangkan sneakers dengan abaya kasual.
Ini lebih dari sekadar gaya — ini adalah evolusi budaya. Anak muda Saudi membuktikan bahwa tradisi bukan berarti tertinggal. Justru sebaliknya, tradisi bisa menjadi pijakan untuk membentuk identitas modern yang kuat dan autentik.
Dari Riyadh ke Indonesia: Isyarat Arah Mode Baru
Riyadh Fashion Week 2025 kini tampil bukan sekadar sebagai ajang regional, melainkan sebagai barometer global tentang arah evolusi fashion — terutama dalam ranah modest wear dan desain yang berakar pada budaya. Di runway terbuka seperti The Palm Grove, debut kapsul Vivienne Westwood memadukan couture Inggris dengan bordir artisan Saudi, menciptakan gaun-gaun yang berbicara tentang warisan melalui benang emas dan jahitan halus, sekaligus memberi gambaran arah koleksi Spring/Summer 2026 rumah mode tersebut.
Di luar momen utama itu, talenta lokal seperti Tima Abid memikat lewat siluet bervolume dengan detail kristal dan bentuk skulptural yang mengaburkan batas antara tradisi dan elegansi modern. Sementara desainer seperti Razan Alazzouni menghadirkan karya yang mengalir dan understated, menonjolkan kehalusan desain ketimbang kemegahan yang berlebihan.
Bagi mode Indonesia, pergeseran ini terasa akrab sekaligus relevan. Di tanah air, modest fashion bukan sekadar tren runway, melainkan estetika yang hidup. Hal ini tercermin dari geliat acara seperti Jakarta Muslim Fashion Week, di mana layering tenun modern, siluet yang ringan, dan basic yang ditinggikan kualitasnya menandai arah baru menuju quiet luxury yang praktis dan nyaman dikenakan.
Apa yang disinyali Riyadh untuk 2026 adalah perpaduan identitas budaya yang kuat dengan gaya global yang lebih membumi — sebuah cermin dari perjalanan Indonesia sendiri. Tahun ini, para desainer semakin merangkul heritage dengan sentuhan ringan dan wearable, sementara dunia fashion global mulai menoleh pada suara-suara yang mampu menerjemahkan budaya melalui kenyamanan, iklim, dan rasa percaya diri. Di tengah era ketika fashion tak lagi soal kebisingan, melainkan makna, Indonesia berada pada posisi tepat untuk menghadirkan suara yang relevan, baik di dalam negeri maupun lintas batas.
Bagi Anda yang ingin menjelajahi sisi terbaik Saudi, kunjungi visitsaudi.com untuk mendapatkan informasi terbaru, inspirasi perjalanan, dan beragam pengalaman menarik.












