Businessasia.co.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah mengantongi mandat penerbitan obligasi korporasi senilai Rp71,35 triliun per Januari 2026. Dari total mandat tersebut, perusahaan swasta non-BUMN mendominasi rencana penerbitan. “Kami menerima mandat dari 43 perusahaan, yang paling besar adalah dari multifinance dengan jumlah 7 perusahaan dan nilai Rp17,65 triliun, kemudian dari industri pulp and papers berjumlah 3 perusahaan dengan nilai penerbitan Rp8,9 triliun,” kata Kepala Divisi Riset Pefindo, Suhindarto di Jakarta, kemarin.
Disampaikannya, sedikitnya terdapat 43 perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi. Dua perusahaan dengan nilai emisi tertinggi datang dari sektor multifinance dan pulp and papers. Sementara itu, sektor perbankan tercatat masuk dalam pipeline dengan nilai penerbitan senilai Rp7,71 triliun, perusahaan induk senilai Rp6,05 triliun, dan perusahaan dari sektor kimia dengan nilai total penerbitan senilai Rp4,50 triliun.
Berdasarkan jenis instrumen surat utang, PUB obligasi mendominasi dengan nilai mencapai Rp47,45 triliun dan PUB sukuk mencapai Rp14,15 triliun.”Mandat ini lebih banyak didominasi oleh institusi swasta dengan jumlah 35 perusahaan, dengan nilai Rp57,9 triliun. Sementara BUMN dan anak perusahaan atau BUMD itu hanya sekitar 8 perusahaan dengan nilai penerbitan sekitar Rp13,44 triliun,” ujarnya.
Adapun jika dibandingkan mandat per Januari 2025, rencana penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini tampak lebih semarak. Pada Januari 2025, Pefindo baru mengantongi mandat senilai Rp56,69 triliun. Saat itu, sektor perbankan dan pertambangan mendominasi rencana penerbitan.
Ihwal tingginya minat sektor pulp and papers dalam menerbitkan surat utang pada tahun ini, Head of Non-Financial Institusional Ratings 1 Division Pefindo Martin Johannes, menerangkan bahwa sedikitnya terdapat tiga alokasi dana utama dari sektor tersebut dalam menerbitkan obligasi, antara lain rencana investasi, modal kerja, dan refinancing.
Dalam rencana investasi, Martin menerangkan bahwa ada setidaknya dua perusahaan yang tengah dalam proses menambah kapasitas produksi. Dengan begitu, penerbitan obligasi korporasi dinilai menjadi salah satu strategi pembiayaan perusahaan tersebut.”Selain untuk melakukan investasi, tujuan penggunaan dana yang lainnya yaitu untuk modal kerja dan juga melakukan refinancing atas surat utang jatuh tempo,” katanya.
Untuk diketahui, sepanjang periode Januari–November 2025, Pefindo mencatat penerbitan obligasi dan sukuk korporasi mencapai Rp198,81 triliun. Nilai tersebut tumbuh 56,88% secara year on year dibandingkan realisasi Rp126,73 triliun pada periode yang sama 2024.
Capaian tersebut belum memasukkan penerbitan Patriot Bond yang diracik lembaga pengelola kekayaan negara (SWF) Danantara dengan nilai emisi mencapai Rp50 triliun. Dengan tambahan tersebut, Pefindo memperkirakan total penerbitan surat utang korporasi hingga akhir 2025 berpotensi melampaui Rp200 triliun.
Pada tahun ini, Pefindo menargetkan penerbitan efek bersifat utang (EBUS) berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,66 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun. Target ini lebih rendah dibandingkan proyeksi realisasi pada 2025.












