Businessasia.co.id – PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) mencatat penguatan fundamental keuangan sepanjang 2025, ditopang efisiensi biaya, lonjakan laba, dan rasio solvabilitas sangat solid. Manajemen JMA Syariah memaparkan kinerja 2025 dalam Public Expose via zoom meeting, Selasa (20/01/2026), menegaskan keberhasilan strategi efisiensi dan penataan portofolio bisnis.
Pendapatan usaha tercatat Rp75,62 miliar, turun 4,84 persen dari 2024 sebesar Rp79,47 miliar, seiring penyesuaian penjualan, penguatan kualitas portofolio, dan selektivitas bisnis. Di balik penurunan pendapatan, beban komisi turun 8,90 persen menjadi Rp30,92 miliar, sementara beban administrasi menurun 11,86 persen, mencerminkan disiplin biaya yang konsisten.
Direktur Utama JMAS Basuki Agus menyebut efisiensi tersebut memperbaiki struktur keuangan, meski beban akuisisi naik 39,85 persen sejalan ekspansi pasar dan penguatan penetrasi peserta. Kinerja laba menunjukkan lonjakan signifikan. Laba bersih tumbuh 42,68 persen menjadi Rp4,04 miliar, sedangkan laba komprehensif melonjak 116,24 persen menjadi Rp4,95 miliar.
Pendapatan non-usaha berbalik positif menjadi Rp2,16 miliar dari rugi Rp0,80 miliar tahun sebelumnya, ditopang optimalisasi investasi dan perbaikan pengelolaan aset. Pendapatan kontribusi meningkat 16,55 persen menjadi Rp295,72 miliar, sementara beban klaim turun tajam 24,90 persen menjadi Rp164,46 miliar, mencerminkan kualitas risiko membaik.
Surplus underwriting dana tabarru’ berbalik positif Rp1,75 miliar dari defisit Rp13,48 miliar, menandai titik balik pengelolaan risiko dan kehati-hatian aktuaria. RBC perusahaan melonjak menjadi 398,73 persen dari 194,98 persen, jauh di atas ketentuan regulator, memperlihatkan struktur permodalan yang sangat kuat dan berkelanjutan.
Memasuki 2026, JMAS memastikan pemenuhan ekuitas minimum Rp100 miliar serta konsistensi penerapan tata kelola perusahaan sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Dengan efisiensi terukur, manajemen risiko ketat, dan modal kuat, JMA Syariah menegaskan kesiapan menghadapi fase pertumbuhan baru industri asuransi syariah.










