Jakarta, Business Asia – Dalam rangka memperingati Hari Penyakit Langka Sedunia pada 28 Februari mendatang, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA/Prodia) bekerja sama dengan Indonesia Rare Disorder (IRD) menyelenggarakan kegiatan CSR berkelanjutan bertema “Kesetaraan Akses melalui Inovasi Tes Terbaru untuk Komunitas Penyandang Penyakit Langka”, sebagai penutup rangkaian program pemeriksaan Whole Exome Sequencing (WES) gratis bagi Orang dengan Penyakit Langka (Odalangka) yang telah dilaksanakan sejak Februari 2025.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen Prodia melalui pilar Promoting Healthcare Services for All dan Involving People, mendukung pencapaian SDGs 3 (Good Health and Well-being) dan SDGs 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), dalam upaya membangun layanan kesehatan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan bagi Odalangka.
Kegiatan CSR ini dihadiri oleh dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., selaku Direktur Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA., Subsp.DA(K) selaku ketua InaSHG (The Indonesian Society of Human Genetics), Andi Widjaja selaku Founder & Komisaris Utama Prodia, Dewi Muliaty selaku Direktur Utama Prodia, segenap jajaran Direksi dan Komisaris Prodia, dr. Iffa Mutmainah, M.Si., Med selaku konselor genetik Prodia, Yola Tsagia selaku Ketua komunitas IRD, serta para tamu undangan serta masyarakat umum yang hadir secara online maupun tatap muka.
Dalam sambutannya, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menyampaikan apresiasi kepada Prodia atas kontribusinya dalam memberikan pemeriksaan WES serta edukasi kepada masyarakat dan komunitas mengenai pencegahan dan penanganan penyakit, khususnya penyakit langka. Inisiatif ini dinilai sejalan dengan upaya membangun paradigma kesehatan yang lebih promotif dan preventif.
Sementara itu, Prof. dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA., Subsp.D.A.(K) melalui sambutannya menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas guna memperluas akses terhadap diagnosis dini, konseling genetik, serta informasi bagi pasien penyakit langka secara lebih merata dan efektif di seluruh Indonesia.
Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty, menyampaikan, “Melalui kegiatan CSR pemeriksaan Whole Exome Sequencing (WES) ini, Prodia berupaya memperluas akses terhadap diagnosis yang akurat bagi Odalangka serta mendorong pemahaman akan pentingnya deteksi dini dan pendampingan yang tepat. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang kami untuk terus memperkuat layanan diagnostik dan pengembangan pemeriksaan genetika berbasis sains, guna menghadirkan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Dewi dalam sambutannya.
Program pemeriksaan WES ini ini telah memberikan manfaat penegakkan diagnosis bagi 36 anak-anak Odalangka yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai bentuk pertanggungjawaban program CSR kepada para peserta, kegiatan penutupan CSR ini diisi dengan pemaparan hasil akhir dari pelaksanaan program CSR pemeriksaan WES, diikuti dengan talkshow edukasi yang menghadirkan dr. Iffa Mutmainah, M.Si., Med. selaku konselor genetik Prodia, dan Winny, M.Sc. selaku Molecular Predictive & Diagnostic Lab Head Prodia, membahas peran pemeriksaan genetik dan kehadiran WES dalam diagnosis akurat serta pentingnya konseling sebagai bagian dari tata laksana penanganan penyakit langka.
Ketua komunitas IRD, Yola Tsagia, menilai program ini memberikan manfaat signifikan dalam mendukung diagnosis yang lebih akurat sekaligus meningkatkan pemahaman orang tua dan pendamping terkait pemeriksaan genetik, konseling, dan tata laksana berkelanjutan.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dan komitmen Prodia melalui program CSR ini, karena membantu memperluas akses pemeriksaan genetik serta memberikan pemahaman bagi keluarga terkait proses diagnosis dan perawatan ke depan,” ujar Yola.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian inisiatif CSR Prodia yang telah berjalan secara berkesinambungan sejak 2019 dan 2023 untuk meningkatkan kesetaraan akses pemeriksaan genetika bagi Odalangka di Indonesia, melalui pemeriksaan Chromosomal Microarray Analysis (CMA) dan dilanjutkan dengan WES pada 2025.
Atas konsistensi dan dampak sosial yang dihasilkan, program ini memperoleh penghargaan ESGNow Awards 2025 kategori Pilar Sosial – Health & Well-Being Champion dari Republika melalui program “Skrining Penyakit Langka bersama Indonesia Rare Disorders”.











