Businessasia.co.id — Terletak di jantung kawasan strategis Blok M, Puja Bumi Kenduri hadir sebagai restoran Nusantara yang merupakan bagian integral dari kawasan The Trunojoyo. Berangkat dari sebuah keyakinan personal sang pendiri bahwa hidangan adalah sebuah bahasa budaya, Puja bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap filosofi Nusantara dengan menghidupkan kembali esensi yang kian pudar di tengah kota, yaitu semangat Bumi Kenduri, sebuah tradisi yang merayakan kebersamaan, kerendahan hati, serta sakralnya momen berbagi.
Nama Puja merepresentasikan harapan dan penghormatan — kepada bumi, tradisi, serta setiap tangan yang menanam, mengolah, dan menyajikan makanan. Sementara kenduri, dalam tradisi Indonesia, melampaui makna makan bersama. Ia adalah simbol rasa syukur, kerendahan hati, dan semangat berbagi. Filosofi inilah yang menjadi fondasi utama. Perjalanan membangun Puja tentu tidak lepas dari tantangan. Khususnya, dalam menavigasi dinamika antara otentisitas dan modernitas, bagaimana menjaga kemurnian cita rasa leluhur agar tetap utuh, sembari mengemasnya dalam konteks yang relevan bagi gaya hidup masa kini.
Melalui kolaborasi dengan para ahli kuliner, perajin, dan pelaku budaya, Puja memaknai inovasi bukan sebagai pengganti tradisi, melainkan sebagai cara menafsirkannya kembali dengan penuh rasa hormat. “Kami menyadari bahwa kekayaan kuliner Nusantara seringkali disajikan secara sederhana, meskipun nilai, filosofi, dan kedalaman sejatinya layak mendapat panggung yang lebih bermakna.” ujar Reza Raditya, Owner Mantara Group yang didampingi Chef Ray Villian, kepada media di Jakarta, baru-baru ini.
Menjadi Ruang Jeda di Tengah Dinamika Blok M
Sebagai bagian dari The Trunojoyo, Puja Bumi Kenduri hadir di kawasan Blok M, sebuah distrik yang dikenal dengan energi kreatif, dinamika tinggi, dan keberanian bereksperimen. Di daerah dengan ritme cepat tersebut, Mantara Group memilih untuk mengemas Puja sebagai sanctuary yang menawarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Dari sisi kuliner, salah satu keunggulan Puja terletak pada keberpihakannya terhadap makna di atas tren yang berganti. Melampaui sekadar konsep fusion atau estetika visual, mereka menetapkan warisan masakan Indonesia sebagai pusat utama dari seluruh pengalaman bersantap. “Inilah cara kami tetap menjadi bagian dari ekosistem Blok M yang dinamis, sekaligus menghadirkan standar yang lebih dewasa dan berkarakter dalam lanskap kuliner kawasan tersebut.” tambah Reza.
Pengalaman Bersantap Utuh dan Multisensori
Pengalaman bersantap di Puja diiringi simfoni multisensori yang membuatnya terasa hidup. Mulai dari aroma rempah yang subtil, material interior alami, serta pencahayaan yang hangat. Setiap sudut ruang dirancang dengan penuh ketelitian, menggunakan interior klasik modern yang dipadu dengan dekorasi tradisional. Sejak melangkah masuk, tamu diajak memasuki suasana dengan ritme yang melambat, atmosfer yang hangat, dan perhatian pada detail yang terasa personal.
Mulai dari cara staf menyambut, alur pelayanan yang tenang, hingga bagaimana setiap hidangan diperkenalkan melalui cerita, semuanya dirancang agar tamu merasa dihargai, bukan sekadar dilayani. “Kami ingin cita rasa Puja menjadi kesan yang melekat, menjadi kenangan yang melahirkan cerita yang baik dan menjadi pilihan untuk berlabuh menikmati waktu berharga bersama keluarga, kerabat, maupun rekan kerja.” ucap Reza.












